Ulang Tahun di Tenda Lamaran

bungaMembuka lembar masa lalu, bolehkah? Boleh, setiap orang pasti memiliki masa lalunya masing-masing. Masa lalu adalah pelajaran hidup yang paling berharga, adanya masa lalu akan membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, masa lalu tidak boleh dijadikan hambatan untuk membangun masa depan, ambil pelajarannya dan lupakan semua yang membuat kita terpuruk.

-Okt 2012-

Ada kalimat mutiara yang berisi “Kita tidak pernah tahu kepada siapa kita akan menjatuhkan hati”. Itu benar. Kami saling berjatuh tatapan saat kami jalan berpapasan disebuah lorong tempat kami bekerja, hanya itu. Entah bagaimana cara memulainya, sampai detik ini pun aku tidak tahu, yang pasti sejak saat itu kami adalah 2 orang anak manusia yang merasa sudah saling memiliki. Itukah yang disebut cinta?. Lucu.
Membangun sebuah komitmen dengan melibatkan orangtua menjadi pilihan kami untuk menjaga hubungan agar tetap pada tujuannya, yaitu menikah. Kami rasa kami berhasil.

-Feb 2013-

Tuntutan pekerjaan telah memisahkan kami pada jarak diantara 2 pulau, Jawa – Sumatera. Kecanggihan teknologi seperti Skype dan Video Call menjadi jembatan bagi kami agar tetap dapat berkomunikasi dengan baik.

Mawar putih dan cake bertuliskan “Happy Birthday Love. Hanya sebentar, tunggu aku pulang ya” dihantarkan oleh seorang kurier berseragam. Aku kirimkan foto ku lengkap dengan hadiah yang dikirimnya, aku tunjukkan kebahagiaan ku meski tidak sempurna agar dia tidak selalu berkata “Maaf” karena ketidakhadirannya.

Kami menitipkan rindu pada jarak, kami menitipkan kegelisahan dalam doa, kadang hanya ada saling tatap dalam video call tanpa berkata apa-apa kemudian tanpa disadar air mata kami mengalir “Aku merindukan kehadiranmu“.

-Juni 2013-

Bahagia luar biasa saat dia dapat kembali menetap bekerja di kota yang sama dengan aku, impian kembali kami ukir. Daftar rencana dan harapan satu persatu kami susun dengan begitu indah, pendekatan dua keluarga pun semakin sering kami lakukan. Pernikahan bukan hanya mengenai 2 orang yang saling mencintai namun 2 keluarga yang harus disatukan. Layaknya seorang anak, aku begitu disayang kedua orangtuanya begitupun sebaliknya, saat kami terpisah jarak orangtuanya selalu datang menjemput untuk mengajak aku terlibat dalam acara keluarganya. Dalam sanubari ku berbisik “Ya Allah, terimakasih kau pertemukan aku dengan dia dan keluarganya. Jika ini adalah sebuah mimpi, tolong jangan bangunkan aku dulu, sampai mimpi ini menjelma dalam nyata“. Namun, aku terbangun.

-Okt 2013-

Perpisahan jarak harus kembali kami lakukan “Kita sudah pernah melaluinya kan, ini akan jauh lebih mudah” . Menganggap mudah sesuatu yang seharusnya tidak dianggap mudah adalah awal dari kesalahan yang kami lakukan. Dalam jarak ini tidak ada lagi Skype dan Video Call, hanya pesan instan dan telefon. Kerinduan tidak lagi bertitip, kegelisahan tidak lagi menjadi air mata namun telah berpupuk menjadi sebuah kepercayaan yang tertanam penuh pada derajat kesetiaan.

-Des 2013-

Dia : “Sayang, tepat dihari ulang tahun kamu tahun depan aku pulang dan melamar kamu. Bisakan siapin semua sendiri di sana?”

Aku : “Hah? serius dimajuin? Udah bilang papa mama? Mereka setuju?

Dia : “Iya, takut kamu diambil orang. Udah kok, mereka OK

Aku : “Yasudah kalo gitu, insyaallah bisa aku siapin sendiri disini, kan dibantu mama πŸ™‚

Dia : “Cieee yang mau dilamar, ydh aku mau lanjut kerja dulu yah, disini aku butuh adaptasi banget, kerjaannya sulit aku pahamin, jadi maaf kalo aku jadi sering jarang hubungin kamu yah, kamu ngerti yah sayang

Aku : “iya gpp, aku ngerti kok. Kamu focus ajah yah kerjanya, biar aku yang urus semua disini

Persiapan lamaran aku lakukan dengan bantuan mama papa dan juga orangtua dia. Benar-benar menyiapkan sendiri, tanpa saran dan pendapat apapun darinya. Kesibukkannya perlahan menghilangkan kehadirannya dihatiku. Kadang berhari-hari kami lewati tanpa ada komunikasi.

Aku : “Chatering, tenda, baju semua sudah siap

(Read) 3 jam kemudian

Dia : “Oh yaudah, aku lagi meeting

Aku : “Ini jam 10 malem loh, masih meeting?”

(Read) besok pagi

Dia : “kan aku bilang, kerjaan disini beda, aku butuh adaptasi banget

Aku : “Kalau kamu sayang sama aku, sesibuk apapun kamu harusnya bisa menghubungi aku, toh nggak harus berjam-jam juga kan. Ini persiapan kita udah 80% tapi kamu nya malah kaya gini. Yang mau nikah kan kita berdua, gimana caranya tiap aku tanya kamu jawabnyaterserah” ”

Dia : “Maafin aku yah, saat ini aku nggak bisa focus ke kamu dulu

Keraguan mulai merajai hati, istikhoroh pun tidak menghilangkan keraguan itu. Ini baru tahap lamaran bagaimana dengan pernikahan. Lebih baik gagal lamaran daripada gagal menikah, pikirku.

Aku : “Ma, kayanya mau Kakak batalin ajah lamarannya

Mama : “Ya Allah, Kakak kenapa sih nak, jangan buat malu keluarga dong, mama udah bilang ke keluarga besar kamu mau lamaran bulan depan

Aku : “Nggak bisa Ma, yang jalanin kan Kakak, bukan keluarga besar. Malu dengan keluarga dan tetangga, terus Kakak harus pertaruhin kebahagiaan Kakak? Nggak Ma

Mama : “Iya, tapi emang apa masalahnya, ini tuh sindrom ajah Ka. Kakak harus bisa hadapin ujian orang yang mau nikah

Aku : “Bagaimana bisa menjalani ujian kalau yang menjalani cuma satu orang, Ma! Bagaimana bisa pernikahan hanya dipertahankan oleh satu orang?

-Jan 2014-

Dia : “Sampai dimana persiapan nya? Udah ready semua kan?

Aku : “Iya, tapi aku ragu untuk ngelanjutin

Pesan hanya di read, tidak ada balasan darinya, juga tidak ada pertanyaan dariku.

4 hari kemudian

Dia : “Aku pulang besok biar kita bisa bicarain semuanya, maafin aku yah

2 minggu sebelum hari H dia memilih pulang ke Jakarta untuk bertemu aku, sangat aneh buang-buang ongkos pesawat kalau hanya untuk membicarakan hal yang bisa kita bicarakan lewat telepon. Ada yang salah.

Lahir dan bathin telah ku persiapkan untuk kemungkinan terburuk kedepannya, apapun keputusan yang akan kami ambil nanti adalah yang terbaik bagi kami.

-Feb 2014-

Pertemuan kami malam ini begitu dingin, jauh berbeda ketika dulu dengan begitu bahagianya aku menyambut kepulangannya. Kami duduk berhadapan, saling tunduk dan tidak ada lagi tatapan cinta seperti saat kami pertama bertemu.

Aku : “Jadi, apa yang mau kamu omongin sampai harus pulang sekarang?

Dia : “Tentang keraguan kamu

Aku menunggu dia bertanya kenapa aku ragu, namun kalimat itu tidak juga keluar dari bibirnya. Aku masih terdiam menunggu dia melanjutkan kalimatnya.

Dia : “Aku nggak bisa focus lagi ke kamu, ntah kenapa. Aku merasa harus bisa beradaptasi dengan kerjaan ini dulu untuk kemudian menafkahi kamu

Aku : “Itu bukan alasan. Kalau itu adalah masalah utamanya harusnya bisa kita bicarakan, bukan dengan cara menghilang dan menghindar. Ada alasan lain. Kamu yang menciptakan keraguan ini, bukan aku.

Dia : “Aku ingin focus dengan kerjaan aku dulu, setelah itu aku akan datang melamar kamu. Kamu mau nunggu aku kan?

Aku : “Jangan pernah meminta aku menunggu untuk sebuah ketidakpastian. Menunggu hanya akan menghambat jodoh kita yang sesungguhnya. Aku nggak mau menunggu dan kamu pun nggak harus berjanji. Jika kita berjodoh, Allah akan menyatukan kita kembali dengan caraNya

Dia : “Maafin aku yah, aku mengecewakan kamu. Aku minta kamu tetap simpan cincin yang udah aku beli ini, suatu saat aku kembali akan aku pakaikan di jari manis kamu

Aku : “Nggak perlu, kamu bawa ajah. Kamu akan membutuhkan nya saat kamu menemukan seseorang yang bisa membuat kamu berani melangkah tanpa keraguan untuk menikah

Kami sudah tidak saling memperjuangkan lagi

Itulah cara kami mengakhiri hubungan. Kami datang ke masing-masing orangtua dan keluarga untuk meminta maaf karena kami gagal bertahan untuk tetap bersama. Alhamdulillah mereka mengerti, kegagalan ini tetap ingin aku syukuri, chatering dan tenda yang sudah aku booking digunakan untuk acara ulang tahunku bersama adek-adek rumah yatim piatu, sementara kebaya cantik yang telah selesai dijahit menggantung dilemari bajuku sampai sekarang. Aku percaya Allah hanya ingin aku menunggu, Dia sedang menyiapkan takdir terbaik untukku πŸ™‚

Baca Juga : [Hadiah Ulang Tahun]

Aku menuliskan kisah yang aku alami ini bukan karena aku belum bisa moveon dari masa lalu, justru karena kisah ini sudah sangat jauh aku tinggalkan maka aku bisa menuliskan dan menceritakannya kembali. Berharap bisa menjadi inspirasi bagi kalian yang membaca, bahwa kita manusia hanya mampu berencana, Allah lah yang menentukan.

Saat itu aku sedih dan hancur berkeping-keping, banyak perasaan yang telah aku korbankan dengan keputusan itu. Aku bersyukur Allah telah memberikan pelajaran hidup yang luar biasa kepadaku. Aku yakinkan diriku bahwa aku hanya tersandung, aku tidak terjatuh, aku harus berjuang untuk kembali melanjutkan perjalananku. Namun tanpa campur tangan dariNya, berjuang untuk bangkit dan berjalan kembali bukanlah hal yang mudah :).

Jodoh itu adalah rahasia Allah. Kita tidak bisa datang ke kursiNya untuk melihat catatanNya. Ingin aku sampaikan untuk pasangan jaman sekarang yang begitu mendewakan cinta sehingga membuat kesombongan dalam hatinya tumbuh “Dia itu jodohku, pasti”. Semua sosmed dipasang foto berdua, upload foto berdua, semua-semua dibuat berdua, terlebih lagi nih mentang-mentang sudah dilamar kemudian melakukan perzinahan.

Guys, 5 menit sebelum akad nikah, jika Allah katakan tidak maka batal lah pernikahanmu, jangan terlalu PD dulu yah πŸ™‚

Pacarmu belum tentu Jodohmu

Advertisements

66 thoughts on “Ulang Tahun di Tenda Lamaran

  1. handdriati says:

    Ini ini ini DALEEEEEEEEEEEEEEEMMMMM BAAAANGEEEET mba ke…sorry nulisnya alay lebay, baper aku baca tulisan ini hehe…Sabar ya mba ke, Tuhan pasti kasih yang terbaik buat mba ke…*hughug

  2. rangiRURU says:

    Baca ini jadi kngat adik sepupu saya, sudah acara perkenalan keluarga (atas desakan pihak perempuan) tgl pernikahan sudah ditentukan, sudah fitting baju, siapkan souvenir pernikahan, mencari gedubg resepsi sayangnya singkat cerita pernikahan dibatalkan. Insha allah segera dipertemukan jodohnya ya dan salaam kenal πŸ™‚

  3. @brus says:

    Menarik juga kisah ‘cintanya … sayang ya …gak ‘happy ending …
    Tapi dalam hati yg paling dalam ‘masih berharap untuk kembali berjodoh gak ..?
    Sebab .. kisah temanku dulu ‘serupa juga tapi tak sama … siteman itu ‘masih berharap … dan memang akhirnya kesampaian … mereka berjodoh … Wasyukurillah …

    • kekekenanga says:

      Nggak semua kisah happy ending sperti cerita cinderella, coba kalau kisah itu dipanjangkan, bagaimana kehidupannya setelah menikah hehhee

      Ohh aku sama sekali tidak pernah mengharapkan sesuatu yang sudah pernah membuat ku kecewa :).

  4. Ditter says:

    Ya ampun…. sedih banget, Ke…. πŸ˜₯

    Tapi kamu hebat, bisa mengambil keputusan dengan tegas, walaupun mungkin konsekuensinya berat…. πŸ™‚

  5. diar says:

    Terharu nih Mbak saya.. Iya jodoh gak akan kemana.. Dan setuju bingit PACARMU BELUM TENTU JODOHMU, ini juga yg bikin saya sedih… hehe πŸ™‚

  6. Chichi says:

    Trus mas nya sekarang apa kabar mbak? masih suka stalking ga?
    apa udah nikah? *eh

    Tapi saya percaya. Kalo emg jodoh pasti nanti bersatu lagi sejauh apapun itu.
    Kaya cerita temen saya. Dia putus sama pacarnya padahal udah ngobrolin ttg pernikahan juga. Putusnya karena cowonya kerja ke papua nun jauh disana. Nah, lima tahun kemudian ketemu lagi soalnya si cowo ditugasin balik ke bandung.. Dua-duanya ternyata masih sendiri juga. Entah gimana perasaan itu terjalin kembali.. Dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia dengan satu orang anak hingga sekarang.

    πŸ™‚

    • kekekenanga says:

      kalau kata Inul masa lalu biarlah berlalu, nggak perlu kita tengok2 lagi πŸ™‚
      Jodoh itu bukan kepasrahan namun jodoh adalah bagaimana kita berusaha mempertahankannya πŸ™‚

  7. Iwan Yuliyanto says:

    Cadas banget bagian paragraf-paragraf akhirnya. Dan saya setuju, mbak Keke πŸ™‚

    Takdir adalah rangkaian sebab akibat. Manusia diberi anugerah untuk menciptakan sebab yg baik agar baik pula akibatnya.

    Sebagai manusia adalah wajar jika kita punya begitu banyak keinginan dan berharap agar seluruh keinginan kita dapat terwujud seperti apa yg kita mau. Tapi pada akhirnya, kita harus paham bahwa nahnu nuridu, wallahu yurid, wallahu fa’alun lima yurid, kita berkeinginan, Allah juga berkeinginan, tetapi Allah lah yang melaksanakan keinginan-Nya. Tetap berbaik sangka atas semua takdir yg berlaku, entah itu takdir baik atau takdir buruk dalam pandangan mata kita. Karena sesungguhnya, Allah telah merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, sebagaimana firman-Nya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS. 2:185]
    Tinggal manusia sendiri yang memilih jalannya.

    • kekekenanga says:

      Betul Pak, Allah berkehendak namun sebenarnya manusia pun diberi hak untuk memilih jalannya πŸ™‚
      Aku yakin inilah takdir terbaik dalam hidupku, takdir ini menjadikan aku prbadi yang jauh lebih baik, kuat dan tegar πŸ™‚
      Insyaallah aamiin πŸ™‚

  8. amax says:

    bukan cuma curhat, tp bisa menulis kisah yang ada pelajaran di dalamnya.

    kutipan terakhirnya aku suka banget. tetap istiqomah ya kak πŸ˜‰

  9. yuyu says:

    semangka πŸ˜€ …. setiap orang punya alur hidup masing” deh,, kita cuma mampu berusaha dan berdo’a. makasih kak ceritanya sungguh tak bisa d’komentar campur aduk pastiu.. qu juga belum dapat jodoh nii, saling mendo’akan yaa yg terbaik,, cahyoo πŸ˜€

  10. soeman jaya says:

    Sungguh membuat hati jadi ‘teraru sekaligus ‘lega … πŸ™‚
    ‘terharu, karena awalnya hubungan kalian ‘harmonis, betapa tidak ‘sudah ada rencana ‘lamaran, tanda2 keseriusan tingkat dewa…, namun akibat ‘jarak – akhirnya ‘fatal… 😦
    ‘lega, karena ‘berani mengambil keputusan yg ‘lugas … walaupun ‘pahit, postingan ini ‘bernas sangat pokoknta ‘jempol-4 deh..!
    Yg pasti kalian belum ‘berjodoh … dan semoga segera mendapatkan jodoh yang terbaik sesuai idamanmu … πŸ˜€

    • kekekenanga says:

      hhmm cewe batal diusia segitu memang pasti stress banget mas, aku juga ada temen yang kaya gitu kisahnya Mas 😦
      Sekarang malah jadi cewek yang nggak percaya sama cowok, nggak bisa nerima hati yang baru, harapannya masih sama calon suaminya yang dulu 😦

  11. Blogger Indonesia says:

    Bingung mau komentar apa, mungkin rasa salut yang mau aku ucapin buat Keke karena aku lihat Keke masih bisa tetap bahagia melewati jalan takdir seperti itu.. Bagi wanita, mengalami kejadian seperti itu adalah salah satu ‘neraka’ yang ada di dunia.. aku tahu banget soal seperti itu.. karena temanku dulu juga mengalami hal seperti itu.. bahkan mungkin lebih tragis dari kisah Keke.. karena saat itu temanku yang 3 tahun lebih tua dari aku itu ngga jadi nikah saat usianya menginjak 27, waktu 3 tahun pacarannya terbuang sia-sia di saat sang wanita dalam usia yang siap untuk ke jenjang yang lebih serius.. 😦

    • kekekenanga says:

      Memamerkan kesedihan nggak akan merubah apapun Mas, apalagi masang sttus2 alay hehhee
      Memangnya kalau orang lain tau kita sedih, trus kemudian kita jadi nggak sedih lagi? nggak kan, yang ada nanti malah ada yang seneng.
      Kalau bukan diriku sendiri yang berjuang agar tetap bahagia, siapa lagi!
      Iya itu dia Mas, pacaran bertahun-tahun akhirnya nggak jadi, jadinya yah hanya buang-buang waktu (tapi pasti ada pelajaran dari setiap org yang pernah bersama).
      Makanya sekarang mah kl ada yang mau sama aku tapi ngajak pacaran lama-lama.. husstt kelaut ajah hahahaa

  12. Yoga Akbar Sholihin says:

    Kak, aku baper bacanya, Kak. 😦

    Bener banget itu, nggak peduli udah bilang ke keluarga besar. Kalau nggak bahagia ya gimana? Dalem. :’)

    Satu-satunya yang pasti di dunia ini: ketidakpastian. :))

    Gue dulu awal kuliah juga gitu, Kak. Udah deket sama keluarganya, berasa direstuin juga. Tapi ya, ujung-ujungnya pupus. Itu kalimat terakhir nyesek amat euy, 5 menit sebelum akad nikah kalau Allah berkata tidak ya batal. Parah. 😦

    • kekekenanga says:

      Baperfly yah Yoga πŸ˜›
      Deket sama keluarga, ngerasa cocok, ngerasa satu visi dan misi tapi kalu belum jodoh yah pasti nggak akan bisa bersama juga πŸ™‚
      Allah memiliki segala cara untuk menentukan sesuatu sesuai keinginannya, so jangan ke PD an pamer sana sini untuk seseorang yang belum pasti πŸ™‚

  13. nanoki says:

    Ternyata berat ya perjuangan kak keke di masa lalu dan bisa sabar melewatinya, pantes aja kak keke bisa dengan bijak menyikapi permasalahan sekarang.
    Semoga kak keke cepat di pertemukan dengan jodoh yang sesungguhnya, dan bisa happy ending kayak di cerita-cerita princess disney gitu, πŸ˜€

    • kekekenanga says:

      Iya luar biasa berat, bahkan ini yang paling berat selama hidup πŸ™‚
      namun ujian itu yang telah mendewasakan dan menguatkan pribadi aku saat ini.
      Katanya “kalau mau naik kelas kan harus ujian dulu”

  14. rizzaumami says:

    Ceritamu amat sedih, mbak. Tapi enggak tahu kenapa, cerita sedih seperti ini malah menyimpan keindahan. Semoga memperoleh jalan yang lebih baik dan lebih berkah.

  15. adhyasahib says:

    luar biasa ketegaran mu patut di acungi jempol, saya baca sambil terharu nih :(, ceritanya kayak di film2 tapi beneran banyak pesan moralnya. terima kasih sudah berbagi dan mengingatkan agar tidak usah pamer sana sini klo belum sah, jodoh memang gak ada yg tau

    • kekekenanga says:

      Iya Mba, Allah menguji tepat dihatiku πŸ™‚
      Iya yah kaya di film, biasanya cuma nonton sekarang mengalami sendiri πŸ™‚
      Betul Mba, ini jadi pelajaran buat aku juga agar nggak gembar gembor sebelum kepastian menikah hehhee, lamarannya cukup orangtua ajah nanti mah hehee

  16. Wida Zee says:

    Bukan alibi atau lebay,, aku baca tulisan teteh keke yang satu ini bikin air mataku menetes. Kegagalan teteh untuk menikah sama halnya denganku, tapi bedanya saya tetangga dan keluarga besar belum di kasih tahu hanya saja ortu dan kakak saja. Sedih rasanya kalau teringat masa itu teh :’)
    Teteh juga yang sabar iya semoga segera mendapatkan jodoh yang terbaik dari yang terbaik ya πŸ™‚

    • kekekenanga says:

      Iya memang sedih luar biasa, terlebih yang membuat drop itu kabar yang sudah tersebar di keluarga, teman dan tetangga πŸ™‚
      Kamu juga yah Wida, lebih baik gagal sekarang kan daripada nanti setelah menikah, Allah sedang mempersiapkan yang lebih baik lagi buat kamu juga aku πŸ™‚
      Chiiaayyyooooo

  17. Jejak Parmantos says:

    Benar Mba Keke, dalam Islam khitbah (lamaran) itu cenderung bersifat rahasia (hanya lingkup keluarga paling dekat) sedangkan walimah justru sebaliknya sangat dianjurkan (sunnah muakad) untuk disiarkan.
    Kenapa demikian? biar tidak ada fitnah di kemudian hari. Dan tentu saja, masing2 keluarga tak akan merasa malu jika proses khitbah tidak berlanjut dg akad dan walimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s