Pelukan (Ceritaku di Buku Rumah Kedua)

Jujur saja, saya berfikir bagaimana caranya untuk kabur.
Mengumpet di kolong meja saja, pikir saya.

wpid-mengerikan

Sejak kecil sampai detik ini saya sangat takut dengan yang namanya jarum suntik. Betapa malunya kalau teringat ketika dulu duduk dibangku SMA saya harus ngumpet di kolong meja karena nggak mau disuntik. Begitu juga ketika SD, saya lari dari klinik sekolah dengan rok yang sudah dibuka Om Dokter.

Yang ada dibenak saya saat memutuskan untuk bekerja di Nutrifood adalah tidak ada tes kesehatan alias suntik-menyuntik. Sebulan, dua bulan bekerja dengan senang riang. Sampai sebuah email datang dari Mba Grace Manatap B Aritonang, karyawan bagian klinik, dengan judulnya yang sangat kece badai “Jadwal MCU 2011”.

Karena saat itu masih anak baru yang masih unyu-unyu, saya tidak paham tentang MCU. Jadi, saya abaikan email tersebut.

Tak terasa, tibalah hari disaat jadwal Division of Sales and Distribution untuk MCU. Saat itu saya baru tahu bahwa MCU itu medical check up alias tes kesehatan termasuk disuntik.

Karena masih anak baru, saya gengsi kalau panik. Jadi yang saat itu saya lakukan adalah senyum semanis-manisnya. Padahal, jantung rasanya mau lepas.

Akhirnya semua teman di divisi kami sudah MCU, hanya tinggal saya yang belum melakukannya. Jujur saja, saya berfikir bagaimana caranya untuk kabur. Mengumpet di kolong meja saja, pikir saya.

Tapi saya berfikir lagi. Toh ini untuk kesehatan saya sendiri, jadi meskipun tangan gemetar, keringat dingin, jantung berdetak lebih cepat seperti genderang mau perang, darah mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala seolah ada Syah Rukh Khan didepan mata, saya tetap memberanikan diri masuk ke ruangan meeting NASA1 yang saat itu mendadak berubah menjadi ruang pembeku jenazah bagi saya.

Oke, akhirnya saya masuk sendiri tanpa pendamping, karena masih jomblo hehee. Kalimat pertama yang saya katakan kepada tim penyuntik ketika itu adalah, “Mas, saya lagi datang tamu bulanan loh jadi nggak boleh disuntik nanti pendarahan.

Dengan muka datar “Mas Bewok”, saya memanggilnya, petugas MCU, pun menjawab, “Emang mau donor darah? ini kan cuma tes ajah, jadi nggak apa-apa

Dalam hati saya berkata, “Pliss deh, Mas, saya kan udah kedip-kedip odein, masa nggak paham sih”

Kala itu pukul 14.00. Ruangan sedang sunyi karena orang-orang sedang asyik bekerja. Ditengah keheningan lantai 2B, tiba-tiba terdengar suara “aaaaaaaaaaaaaa” dari ruang NASA1. Itulah suara jeritan dan tangisan saya yang membahana dan membuat semua orang melongok ke ruangan itu.

Entah sampai dimana berita fenomenal ini beredar, yang pasti setelah hari itu, saya merasa semua orang lebih care terhadap saya. Meski sebelumnya sempat memendam kekhawatiran karena takut diejek, ternyata teman-teman justru men-support saya setiap kali akan MCU.

Dan ketika MCU kedua ditahun 2012, Mas Bewok sudah lebih berhati-hati karena sempat terkena tonjokan tangan saya pada MCU sebelumnya πŸ˜€

Selain itu, untuk menghindari kericuhan, Mba Grace pun menutup pintu rapat dan turun tangan langsung untuk memeluk saya erat. So sweet, kan? Saya jadi merasa lebih berani dan tenag ketika disuntik (walaupun masih tetep nangis). Terimakasih, Mba Grace, atas pelukannya πŸ™‚

-Putri Kenanga-
Penulis Judul “Pelukan” dalam Buku Rumah Kedua (Kumpulan kisah inspiratif di dunia kerja yang seru)

Advertisements

20 thoughts on “Pelukan (Ceritaku di Buku Rumah Kedua)

  1. Beby says:

    Kalok yang meluk mas-mas ganteng boleh ngga, Keeee? Buahaahhah.. πŸ˜€

    Aku ngga takut disuntik sih. Dulu pas imunisasi, kata Mama akunya lempeng aja. Bener-bener tipe anak idaman πŸ˜›

  2. Iwan Yuliyanto says:

    Disuntik harus berani, agar bisa donor darah.
    Banyak manfaatnya lho kalo donor darah … darahnya jadi berganti lebih muda, pemiliknya jadi gak gampang sakit-sakitan, dan awet muda tentunya πŸ™‚

  3. Ryan says:

    Aku juga takut jarum dulu. Inget penyebabnya adalah pas SD. Suntik hepatitis. Berasa dalem banget smp kayak mau nembus. Yang ada suster Kepsekku sakit nahan aku. Hahahahaha.

  4. @brus says:

    Waduhh … sudah duduk dibangku SMA ente sampe harus ngumpet di kolong meja karena nggak mau disuntik?. … hihihi …. kirain saya itu cuman candaa … hihihi … πŸ˜‰
    trus. Mas Bewok sempat terkena tonjokan ..? ah, paling Mas Bewok ‘kesenengan ditonjok jemari cew cantik … hehehe … πŸ˜›

    • kekekenanga says:

      hahaha iya beneran, sampe dikejar2 guru BP juga hahaa memalukan 😦
      Lumayan kenceng juga nih tonjokan kalo lagi takut, untung Mas Bewok nggak pake helm hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s