Malaikat Nyataku

Mama,
Wajah cantikmu kini sudah kulihat tua
Tubuh tangguhmu itu sekarang mulai melemah
Namun, sinar mata mu masih begitu tajam saat memarahiku
Jangan pernah berhenti memarahiku, Mama.

Mama,
Kini aku bukan lagi putri kecilmu
aku kini telah mampu menaklukan dunia
Namun, masih dapat kuhitung berapa kali kubuat kau tersenyum
tidak banyak kan?
Tapi kenapa kau tidak pernah meminta.

Mama,
Waktuku kini mungkin tidak banyak
Andai aku dipanggilNya lebih dulu
aku tidak takut,
aku akan menemuimu setiap malam
ketika air mata kerinduanmu padaku menetes diatas sajadah

Mama,
Yang kutakutkan adalah ketika kau meninggalkanku
karena aku tidak pernah siap kau tinggalkan
aku sangat membutuhkan teguranmu
aku masih ingin melihatmu setiap pagi
memarahiku dan membangunkanku.

Mama,
Peluk lah aku dengan kasihmu. Aku telah lelah, Mama.
Dunia ini begitu keras, tak seteduh kasihmu.
Mengapa di luar sana, tak pernah kutemukan keikhlasan,
seperti keikhlasanmu padaku.

Mama,
Kau selalu bercerita tentang malaikat
Yang selalu menjaga dan mengawasiku
Saat aku bertanya, dimanakah malaikat itu?
Kau bilang, mereka tidak terlihat

Tahukah mama,
Bahwa aku melihat malaikat itu setiap hari
Malaikat itu selalu memberiku kasih sayang
Malaikat itu juga selalu mendoakanku
Malaikat itu selalu menyembunyikan rasa letihnya dihadapanku
Malaikat itu adalah kau Mama,
Kamulah malaikat nyataku.

Mama, You are my everything

IMG_20140301_133937

Note:Puisi ini ikut serta dalam Sayembara Menulis Sayang Bunda FSLDK Jabedek dalam rangka memperingati Hari Ibu 22 Desember lalu, selama masa penjurian tidak boleh diterbitkan dulu. Dan saat ini penjuriannya sudah selesai jadi baru bisa diterbitkan. Meskipun belum menang, tapi dengan hanya lolos penjurian kemudian diterbitkan di komunitas FSLDK dan dibaca ratusan pasang mata sudah sangat Alhamdulillah. Puisi ini aku persembahkan untuk Mama ^_^

Advertisements

14 thoughts on “Malaikat Nyataku

  1. soeman jaya says:

    Betooll sekali … Izin untuk menambahkan, bahwa ada 2 Malaikat dirumah kita (QS: Al-Isra’ 23) yaitu, seorang Ibu (Mama) … mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita – dan – seorang Ayah (Papa) … membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan kita. Sayangi papa dan mama … Tanpa mereka kita takkan pernah ada… πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s