Cobaan atau Petunjuk

Melihat judul yang aku buat, bener nggak sih kalau kita itu memang sulit membedakan mana yang namanya cobaan dan mana yang namanya petunjuk.

Yuk coba lihat kasusnya Ayu, dia melihat tunangannya berjalan mesra dengan wanita lain, disaat hari pernikahannya sudah dalam hitungan bulan. Kemudian dia mengalahkan logikanya dengan menyebut kejadian itu merupakan sebuah cobaan untuk mereka yang akan menikah. Lalu tunangannya minta maaf *tentunya karena minta maaf itu gratis, jadi seenak jidat dia minta maaf dan berjanji akan berubah* dan tentunya Ayu memaafkan karena alasan nya yang sudah terlanjur sayang, sudah terlanjur kenal keluarga, sudah lama pacaran dan sudah mau nikah. So.. mempertaruhkan masa depan hanya untuk hal-hal itu? Itukah cobaan?

Dan bagaimana dengan Rini, yang sudah pacaran lebih dari 7 tahun, meyakinkan semua sosial media bahwa mereka adalah sudah pasti berjodoh. Namun karena orangtua kekasihnya tidak merestui hubungannya, selama itu pula mereka kucing-kucingan *heran kok betah yah*. Menangis tiap kali tidak dilibatkan dalam acara keluarga, merasa tidak diakui & disembunyikan. Kemudian Rini menyebutnya bahwa hal ini adalah sebuah cobaan untuk menguji pertahanan cinta mereka. Tapi, siapa yang bisa menjamin kekasihnya suatu saat akan menurut dengan orangtuanya untuk meninggalkannya, karena bukan rahasia bahwa restu orangtua adalah restu Allah. So.. Itukah Cobaan? Mungkin! Petunjuk? Lebih mungkin!

Berbeda dengan Jodi, yang sudah melewati usia pernikahan selama dua tahun dan sudah memiliki satu orang putri. Dalam perjalanan rumah tangganya hadir orang ketiga yang dia anggap selalu bisa ada untuknya dibandingkan dengan istrinya yang selalu sibuk mengurus rumah dan putrinya. Kemudian Jodi menceraikan istrinya dengan alasan dia telah salah memilih pasangan hidup dan menempatkan orang ketiga itu sebagai petunjuk dari Allah bahwa dia lah jodoh yang sebenarnya. Petunjuk? Bukan, itu Bodoh!!!

Bagaimana dengan Ririn, yang telah di vonis penyakit yang bisa dibilang bukan penyakit yang ringan. Menjalani hari-harinya yang berbeda, tidak lagi dengan kegiatan yang berlebih sementara Ririn dikenal dengan wanita yang aktif dan gesit. Dan dia mengira bahwa penyakit ini adalah petunjuk baginya bahwa Allah sedang menghukumnya, Allah marah padanya. Padahal itu merupakan cobaan baginya yang begitu disayang oleh Allah. Karena Allah hanya memberikan cobaan kepada hambanya yang terpilih, hambanya yang disayang.

Kadang, ups sering, bahkan selalu saja ada alasan untuk menutup logika. Bukan hanya terjadi pada mereka, itu juga pasti pernah terjadi terhadap aku dan juga kalian. Meski logika sudah menyadari bahwa ada yang salah, kadang hati menolak. Lalu, bagaimana membedakan dan menyadarinya.

Petunjuk dan Cobaan yang Allah berikan, tidak mungkin tanpa alasan kebahagiaan lebih yang telah Dia rencanakan dan siapkan untuk kita. Dekatkan hatimu padaNya, maka kau akan tau Petunjuk atau Cobaan yang sedang kau alami. Jika itu petunjuk cobalah untuk berani dan ikhlas melihatnya, tinggalkan apa yang sudah ditunjukkan Allah tidak baik bagimu. Dan jika itu cobaan, berikhtiarlah untuk bisa melewatinya, karena setelah kau mampu melewatinya, maka kau akan menjadi manusia yang berbeda (lulus) dan bersiaplah mendapat hadiah terindah dariNya.

Aku yang memilih, Allah yang menentukan. Aku yang meyakini, Allah yang menetapkan. Aku yang menjalani, Allah yang memberi kekuatan

Advertisements

13 thoughts on “Cobaan atau Petunjuk

  1. Beby says:

    Uhuk. Berat nih pembahasannya, Ke. 😛

    Errrrr..
    Menurut ku karena persepsi orang beda-beda, makanya lain deh cara menyikapi dan memandangnya. Mungkin yang kita anggap salah, ya bener menurut orang lain atau si yang punya masalah ini.

    Tapi aku setuju banget kalok restu orangtua *atau lebih tepatnya ibu* adalah restu dari Allah SWT.. Pernah ngalamin soalnya 😀

    • kekekenanga says:

      Iya beb, tp kebanyakan yang salah dianggap benar bagi mereka yang sedang di mabuk cinta. Sehingga buta akan logika heuheu..
      Nah, jadi Febry udah dapet restu kan hahaha

  2. soeman jaya says:

    Dear dikK3, kasus perkasus yg diangkat adalah kasus ‘biasa saja (maksudku, sering kita temui pada orang disekeliling kita … bahkan salah satunya (mungkin) kita alami sendiri … tetapi apakah itu ‘cobaan atau petunjuk (?!) … itu yang ‘ruarrr biasa sangat bagiku … kenapa? Jujur ya … aku juga berada dalam lingkaran ‘kata tanya itu … 🙂

    Namun dibalik itu … aku ikhlas dan sabar, bahwa ‘sepanjang kita masih hidup, tentu kita akan terus mendapatkan berbagai macam situasi dan cobaan dari-Nya. Maka, aku berpendapat … saat kita gusar akan permasalahan, berbagilah kepada seseorang jika kita merasa perlu. Bila hati kita merasa berat, kembalikanlah pada Allah SWT, Yang Maha Pengasih Tak Pilih Kasih. Jika kita merasa tertekan, selalulah ingat jika ‘Ia adalah yang Maha Besar, Maha Kuasa, Yang Maha Penyayang Tak Pilih Sayang. Saat kita merasa tak mampu, yakinlah jika ada diri-Nya yang akan selalu ada untuk membantu dan membuat kita mampu melewati segala rintangan. Dan ukir dalam hati kita, “Saat tak ada bahu yg dapat kita jadi sandaran, Ingat … masih ada lantai yg dapat kita tempati untuk bersujud pada-Nya”. Subhanallah.

    Dan aku yakin … semua orang ingin kebahagiaan, tidak seorang-pun yg ingin kesedihan. Tetapi kita harus tahu, kita tidak bisa dapat ‘pelangi tanpa hujan lebih dahulu. Semoga kita bisa (wabil khusus Ririn) merubah mind set kata ‘sakitnya disini’ sambil nepuk dada, menjadi ‘bahagianya tuh disini’… Aminn..!
    ~wahh, komen kok panjang ya – nyaingin postinganmu deh… 😉 – salam taqzim dari mas SJ …

  3. Fier says:

    Sepertinya, semua tergantung bagaimana kita menyikapi sebuah masalah. Kalau dianggap petunjuk ya diperjuangkan hingga mendapat hasil akhir. Kalau cobaan ya harus dijalani.

  4. Ai Wida says:

    Segala cobaan harus kita terima dengan hati yang ikhlas meskipun hati terasa sakit. Tapi Alloh tidak akan memberikan cobaan yang begitu berat kepada makhluknya. Betul ngga mbak? 🙂

  5. Iwan Yuliyanto says:

    Contoh kasusnya menarik. Saya sependapat dg mbak Keke. Saya mencoba untuk menambahkan / memberikan penekanan sbb menurut saya:

    [1] Kasus Ayu. Teguran dan petunjuk. Cobaan HANYA datang kepada mereka yang diberikan kesempatan oleh-Nya untuk naik kelas, yaitu mereka yg mengawali dgn sesuatu yg baik. Pacaran tidak disukai Allah.

    [2] Kasus Rini. Teguran dan petunjuk. Petunjuk bagi Rini untuk menyadari bahwa restu ortu = restu Ilahi.

    [3]. Kasus Jodi. Tindakan bodoh yang mengundang azab karena tidak amanah terhadap keluarganya.

    [4]. Kasus Ririn. Bisa dianggap sebagai cobaan di sisi perspektif orang lain. Tapi bila Ririn menganggapnya itu sebagai hukuman, sehingga Allah marah, itu lebih baik. Karena perspektif Ririn spt itu bisa memotivasi untuk selalu istighfar kepada-Nya, tidak sombong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s