Jilbab (Menutup Aurat itu WAJIB)

Artikel ini saya tulis berdasarkan dari cerita teman-teman ketika kami sedang membahas mengenai jilbab dalam sebuah perkumpulan arisan rempong… Bismillah

Sebenarnya, berjilbab (menutup aurat) itu tidak ada hubungannya dengan akhlak dan moralitas. Dalam pandangan kita, wanita berjilbab selalu diidentikan sebagai wanita santun, kalem, rajin shalat, rajin bersedekah, sering hadir di majelis pengajian, dan berbagai predikat kesalehan lainnya. Boleh jadi dan faktanya sebagian besar wanita berkerudung memang seperti yang di persepsikan masyarakat. Sebaliknya, muslimah yang tidak berkerudung, meski akhlaknya baik, tentu saja dipandang tidak sebaik muslimah berkerudung.

LXoI8RDLIni tentunya merupakan hal yang lumrah dan spontanitas muncul dalam benak masyarakat. Akibatnya, jika kebetulan ada wanita berjilbab melakukan sesuatu yang kontradiktif dengan persepsi jilbab yang dikenakannya, maka sebagian besar masyarakat langsung mengaitkannya dengan jilbab yang dikenakannya. Tindakan itu diangggap tidak sesuai dengan jilbabnya. Lantas muncullah suara miring seperti “Pakai jilbab, tapi kelakuannya seperti itu“. Karena hal inilah, dampaknya adalah sebagian muslimah yang belum berhijab memilih tetap bertahan pada pilihannya untuk tidak mengenakan jilbab. Mereka berpikiran sangat sederhana sekali, “Daripada tidak bisa menjaga sikap saat mengenakan jilbab, lebih baik aku tidak mengenakannya, biarlah aku menjilbabi hatiku terlebih dahulu, (nanti saja pakai jilbab kalau sudah tua, mau wafat)”. Atau muncul slogan unik, “Lebih baik pakai rok mini tapi bermental jilbab, daripada pakai jilbab tapi bermental rok mini.

Sebenarnya pengkonotasian pasti antara jilbab dengan kesalehan merupakan pemahaman yang kurang tepat dalam masyarakat kita dalam memandang hubungan antara jilbab dengan akhlak. Karena pada dasarnya sudah seharusnya muslimah yang shalihah menjalankan agamanya dengan baik dan mengaplikasikan perintah agama dalam kehidupan sehari-harinya, salah satunya adalah memakai jilbab. Tetapi saya bisa mengatakan, bahwa sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali antara jilbab dan berakhlak baik. Berjilbab adalah murni perintah agama yang diberikan kepada kaum muslimah, tanpa melihat apakah moralnya baik atau buruk. Jadi selama dia muslimah, berjilbab adalah kewajiban. Tentu saja ada muslimah yang tidak berjilbab, tapi itu adalah pilihan pribadi dia.

fgdfgdfgNah, setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. dan resiko tidak mengikuti instruksi syariat tentu saja ada sanksinya, dan sanksi syariat atas pelanggaran adalah dosa. Memang, bermoral baik adalah tuntutan sosial, disamping tentu ajaran agama. Namun pada dasarnya pelaksanaan segenap taklimat agama yang berhubungan dengan larangan dan perintah (salah satu tentang jilbab) adalah permasalahan menyendiri yang berhubungan dengan ketundukan seorang hamba pada Tuhannya. Artinya, berakhlak baik tidak ada hubungan langsung dengan itu, meski tentu secara implisit dari sudut pandang lain berkorelasi dan terkait erat. Contoh mudahnya, meski penjahat sekalipun, ia tetap wajib menunaikan shalat. Bukan lantas karena jahat sehingga shalat tidak wajib baginya.

Okelah mungkin seorang muslimah yang belum berjilbab bilang cukup saya jilbabi hati saja dulu. Tetapi dia tetap harus mengakui bahwa berjilbab adalah wajib baginya. Siap tidak siap, baik tidak baik, kewajiban muslimah adalah berjilbab (dalam konteks bahasa yang lebih umum, menutup aurat). Jadi kalau kita surfing di internet dan kebetulan melewati judul-judul aneh semacam “Jilbab Bugil”, “Berjilbab Tapi Telanjang”, atau dalam keseharian kita menemukan cewek berjilbab tapi bergaulnya dengan lawan jenis sangat Laa Haula wa laa quwwata illa billah, ngakak-ngakak, meluk-meluk, menggelayut manja pada lain jenis, jalan bergandengan, bergoncengan, maka jangan cepat-cepat menyalahkan jilbabnya. Karena dampak negatif generalisasi perspektif seperti itu adalah muslimah lain yang baik-baik dan berjilbab akhirnya menjadi objek omongan dan kecurigaan tak berdasar. “Jangan-jangan seperti itu juga”. Karena sekali lagi moralitas tidak ada hubungan dengan jilbab, meski tentu dituntut dari gadis berjilbab untuk bermoral sesuai dengan jilbabnya.

jhajksfasfJadi, kesimpulannya, jilbab adalah wajib dikenakan tiap muslimah yang telah masuk usia baligh, tanpa melihat apakah moralnya baik atau jelek. Dan moral adalah sesuatu yang sangat dituntut dalam kehidupan sosial sekaligus sebagai bentuk ihsan dalam beragama. Dan muslimah yang berjilbab, maka pahala akan terus mengalir padanya selama jilbab itu bertengger dikepalanya sebagai bentuk balasan atas ketaatan menjalankan perintah agama. Soal jilbabnya lebar, kecil, bajunya ketat, longgar, itu bab menyendiri lagi yang berhubungan dengan tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang. Akhirnya, muslimah yang berjilbab dan berakhlak baik tentu saja adalah muslimah yang sempurna. Adapun muslimah yang berjilbab namun akhlaknya tidak baik atau akhlaknya baik tetapi belum berjilbab adalah muslimah yang belum sempurna dan sedang berproses menuju kepada kesempurnaan. Semoga segera meraihnya, insya Allah.

Semoga kita selalu diberi Allah anugerah taufiq untuk kebaikan, dan menjalankan kewajiban agama kita sebaik-baiknya. Aamiin

Advertisements

20 thoughts on “Jilbab (Menutup Aurat itu WAJIB)

  1. Nina says:

    Sebenarnya saya punya pendapat yang berbeda berdasarkan dari pengamatan saya selama saya berkesempatan jalan-jalan ke berbagai negara di Arabia. Karena itu rasanya kurang sreg kalau saya tulis disini, karena akan jadi satu tulisan postingan sendiri, tapi saya sedikit menyinggung masalah jilbab ini di posting saya tentang dress code untuk turis perempuan di iran. baca dan liat foto2nya disini: http://ninstravelog.wordpress.com/2014/08/08/dress-code-in-iran/
    Jangan lupa baca juga komentar dari Kayka dan jawabannya

  2. soeman jaya says:

    Mbak KeNanga … se7 sangat..! jilbab adalah wajib dikenakan oleh para muslimah …
    Perkara apakah moralnya baik atau jelek or jilbabnya ketat dan modis … itu dibahas pada pasal lain, apalagi kalau masih suka pacaran ber-dua-2an … itu bab dan pasal tersendiri lagi … apalagi-apalagi ada istri berjilbab tapi berani selingkuh … bab plus pasalnya khusus lagi …. πŸ˜›

    Mampir ke blog ku donk πŸ˜›

  3. TIRS says:

    Setuju banget sama postingan ini. Beberapa dari masyarakat kita memang rada keliru tentang esesi berhijab. Bahaya.
    Gua pernah denger juga kutipan keren, “wanita berhijab belum tentu baik, tapi wanita baik sudah pasti berhijab.” Hehe..

  4. Alam says:

    I do agree.. ngga ada korelasi antara akhlak dan jilbab karena jilbab itu melekat, mau nakal atau mau saleh ya wajib. kalau ada orang bilang “pakai jilbab kok kelakuannya begitu” ini yang bilang ga paham subtansi. satu lagi, hakikat jilbab itu menutup bukan tabarruj..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s