Surat Untuk Calon Imamku (nanti)

Dear kamu, calon imamku…
Benarkah itu kamu! Saat ini aku tidak tahu pasti kamu dimana, dengan siapa dan sedang melakukan apa. Yang aku tahu, suatu saat (nanti) kamu akan menjadi imam dalam keluarga kecilku, kamu yang secara tidak langsung sebagai pengganti sosok Ayah dalam kehidupanku (nanti). Kamu pula yang akan menjadi “pendamping hidupkuring
Tahukah kamu betapa tinggi makna dari sebuah kalimat β€œpendamping hidup”? Adalah teman hidup yang menentramkan jalan, mengontrol langkah, atau penenang saat pilu datang
Calon imamku…
melalui surat ini, aku ingin mengungkapkan apa yang tidak bisa aku utarakan dengan kata-kata. Maaf jika surat ini kusampaikan pada kamu yang belum jelas kepastiannya, yang masih kuterka-terka kehadirannya.
Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu, tentang kita.

Pertama yang ingin aku ucapkan adalah selamat. Selamat karena Allah telah memberi amanat kepadamu untuk menjagaku πŸ™‚
Wahai Calon Imamku
Tahukah kamu betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya? Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya. Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat (nanti) kita bersama, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan. Semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang didapati.
Aku masih haus akan ilmu. Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu.
Calon Imamku…
sungguh aku tidak bermaksud untuk memintamu hanya sekedar menjadi imam atau menjadi tulang punggung keluarga. Kalau niatku hidup denganmu hanya untuk itu, kurasa ada yang salah denganku. Karena aku tak perlu repot-repot hidup denganmu jika aku hanya menginginkan kekayaan. Namun tahukah engkau? aku membutuhkanmu sebagai pengarahku untuk menyeberangi dunia ini, dan akhirat (nanti). Karena perwakilan yang Allah kirim melalui kedua orangtuaku, kini berpindah di tanganmu. Bahkan kau adalah kelak satu-satunya jalan yang dapat membukakan pintu surga untukku, istrimu.
hah
Β Hai Calon Imamku…
tak perlu takut ketika kau berada dalam kesusahan (nanti). Aku tak akan pernah sekalipun meninggalkanmu, asalkan kau juga tak pergi meninggalkanku. Mungkin kau menerka, apakah seandainya kau terjatuh suatu hari nanti, aku akan menuntutmu dan pergi begitu saja? kau salah! aku bukan wanita seperti itu yang dengan tega membiarkan lelakiku berjuang sendiri.
Wahai Calon Imamku…
Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat. Namun (nanti), setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.
Aku ini pencemburu berat. Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu.
Calon Imamku..
Ketika (nanti) telah lahir buah cinta dari pernikahan kita, bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.
Bunga akan indah pada waktunya. Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik, tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu (nanti).
Calon Imamku…
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahami dirimu.
Kukira kamarku bocor, rupanya air mataku yang tanpa kusadari mengalir dan menetes disela jari-jari yang sedang asik mengetik.
Bukan, ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kebahagiaan, kamu tahu wahai calon imamku mengapa aku meneteskan air mata! saat jemariku menari diatas keyboard aku membayangkan ketika (nanti) Allah meridhoi dan menyatukan kita menjadi pasangan yang halal, aku membayangkan bagaimana (nanti) kita mencari pahala bersama dan aku membayangkan bagaimana setiap apa yang kita lakukan bersama (nanti) akan bernilai pahala. Keindahan itu yang membuat air mataku mengalir.Β 
Calon Imamku juga Calon Suamiku…
Hidup ini indah bila engkau selalu hadir di sisiku setiap waktu, hingga aku hembuskan nafas yg terakhirΒ 

Yang selalu mencintaimu

Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β  Β Calon Isterimu

Advertisements

39 thoughts on “Surat Untuk Calon Imamku (nanti)

  1. Farida Ain says:

    Subhanallah surat yang sangat menyentuh, terharuu :’)
    netes nih air mata πŸ˜₯
    izin share ya kakak ^_^ πŸ˜€

      • Arrow says:

        Sdikit info ,
        Dari teladan” para mukminin, yaitu ummul mukminin , maupun kaum mukminin, mrk semua sdh memantau calon imamnya (1 target, jgn prnah lebih dari 1,) dan smuanya melakukan pendekatan pd calon imamnya tsb (S.Khadijah pd Muh.SAW , β–  S. Fatimah pd S.Ali RA , β–  S. Aisyah , serta para mukminin lainnya hingga sebelum kiamat) (bayangkan menjelang sblum kiamat nanti, seorg lk” kluar dri rmh lgsung di ikuti (dibuntuti? , dikejar”?) Hingga 50 wnt (dikutip dri hds”).
        Kesimpulan bgi mukminin :
        1. Tulang Rusuk yg mendekati & mengajukan diri pd “Kerangkanya”
        2. Ada targetnya, yaitu 1 org calon imamnya.
        3. Melakukan pendekatan pd calon imamnya (pengenalan, pergaulan yg sesuai etika Islam) .
        4. Jika sdh yakin “diterima” β–  barulah Mengajukan Diri pd calon imamnya tsb. (Nih ilmunya: ● jka janda bsa langsung dg bhs “simbolik” / “metamorfosa” / yg etis. contoh: s. Khadijah, ● jka gadis slalu diwakilkan bpknya (bsa jga sdr lk”/pamannya). Contoh putri nabi Syuaib pd nb Musa (quran), s. fatimah putri N.Muh pd s.Ali RA.

        β–  Smoga bisa dibuat artikelnya , biar lebih banyak manfaat yg diperoleh

        ■░● Note :
        Hati” Jika “kerangka” mengejar / mengajukan diri pd “tulang rusuk” (sesuatu yg terbalik mnurut ilmuNya)
        Contoh : Qabil pd Iqlima , Abu Jahal pd tulang rusuknya, qorun , serta smua org yg dicap jahat oleh Alloh

  2. Rifai Prairie says:

    πŸ˜€ ah ya. sudah kubaca surat dari calon istriku (nah loh??!)
    :3 yaa.. semoga Allah menempatkanmu pada kebaikan.
    dan wanita yang baik itu bagi lelaki yang baik, dan wanita yang buruk bagi lelaki yang buruk.
    πŸ˜€ percayalah pada Janji Allah.
    πŸ™‚

  3. Fajar Pagi says:

    Biasanya sih, jodoh kita itu ya cerminan diri kita sendiri. ada yg mirip dr sisi face, karakter, dll. perbaiki diri dl dh biar dapetnya jg OK. hehehe πŸ˜€

  4. zayla says:

    subhanallaahh…. jadi pengen cepet-cepet ketemu ama calon imam q abis baca ini… semoga aja calon imam q juga cepet ketemu aq..

  5. soeman jayas says:

    Wahhh … betollllll, semua yang diungkapkan adalah untaian kata penuh makna dari perempuan yang cantik rupa dan cantik pula hatinya, itulah yang didambakan kaumku. InsyaAllah

    Saya sudah berkunjung balik lagi nih … Nice πŸ˜€

  6. Piepiey says:

    baca rangkaian kata yang berasal dari hati ini, sangat menyentuh dan menginspirasi, jadi makin berkaca dan semoga bisa jadi pribadi yang tepat dan layak buat calon imamku kelak πŸ™‚

  7. Piepiey says:

    Memiliki pasangan yang sempurna, tidak memastikan engkau akan mencintainya dengan sempurna. Karena cinta yang sempurna tidak menuntut pasangan yang sempurna (kutip dari google wkwk) –> semoga calon imam ku kelak baca ini ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s