Hadiah Ulang Tahun

Jam menunjukan pukul 23.00, ketika mata belum mampu untuk terpejam. Menantap kosong kelangit-langit bertabur bintang hiasan yang bercahaya dalam kamar gelap. Kegelisahan, keresahan, kekecewaan, rasa takut, penyesalan, penantian, air mata yang tak mampu lagi jatuh menghantui detik-detik pertambahan usia.

teng.. teng” lonceng jam pun berbunyi, rupanya tanggal sudah berganti.

CYMERA_20140215_071527

Beranjak dari kosongnya tatapan, menghampiri sebuah kaca besar disudut kamar, menatap dalam tiap garis wajah pada bayangan dalam cermin, wajah itu tak lagi ceria, mata itu begitu sembab dan basah, bibir itu biru dalam kebisuan, terbata-bata dalam isak, perlahan-lahan bibir itu berkata,

Happy Birthday to me….”

Melangkahkan kaki keluar kamar dalam gelap dan sunyi tengah malam. Membasuh badan di dinginnya malam dengan air wudhu. Menyadari tidak ada yang paling mengetahui selain Allah, menyadari tidak ada yang mampu menguatkan selain Allah dan menyadari bahwa daun jatuhpun sudah diatur Allah, apalagi keinginan yang dimiliki manusia, kenyataan yang dihadapi, perjumpaan dengan orang-orang tertentu, perasaan yang tak menentu, Allah selalu punya maksud di balik semua itu. Dalam sujud, kuteteskan air mata dari segala perasaan yang terpendam, mencurahkan segala yang tak mampu kuungkap kepada manusia, memohon ampun pada tiap dosa yang dilakukan sepanjang usia.

“Ya Allah, ampunilah dosaku, terimalah taubatku karena sesungguhknya Engkaulah yang Maha Pengampun. Ya Allah, begitu berat cobaan yang Kau berikan, mengorbankan banyak perasaan terutama kedua orangtua ku, kuatkanlah aku Ya Allah, izinkan aku menangis hanya dihadapanMu. Ya Allah tahanlah air mataku, sunggingkalah senyumku dihadapan kedua orangtuaku, jangan biarkan wajah sedih ini membuat mereka bersedih. Ya Allah, aku percaya Kau mengambil yang menurutku baik bagiku untuk digantikan dengan yang lebih baik bagiMu.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku, bagi agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah aku dengannya. Sebaliknya, Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku maka jauhkanlah urusan ini dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan, tetapkanlah bagiku urusan yang baik dimana pun adanya, kemudian jadikanlah aku rida dengan ketetapanMu itu.”

Segera kuselesaikan doaku dan kuhapus air mata saat menyadari ada yang memperhatikanku dan mereka telah menantiku didepan pintu kamar. Kusunggingkan sebuah senyum sesaat setelah mereka masuk dengan membawakan kue ulang tahun yang tidak begitu besar dan lilinnya dengan angka 24 bertuliskan “Happy Birthday Kakak”.

Adik satu-satunya yang pertama kali mengucapkan serta mencium keningku, disusul oleh Papa dan yang terakhir Mama. Kulihat air mata yang tertahan dalam mata Mama, ku tahu ada tangis yang dia sembunyikan, sebelum hampir air mata ini tertumpah, adik memecah suasana dengan mata yang masih terkantuk,

Ayoo kakak, cepet berdoa terus tiup nih lilinya, aku ngantuk tau” dia meminta dengan sedikit memonyongkan bibirnya.

Iya .. oke. Berdoa dulu yah

Ku pejamkan mata untuk meminta.

“Aamiin”

“Kakak minta apa sama Allah?”

Sambil kucubit pipi adikku, kujawab “Hadiah..”

Papa

Sesaat setelah mencium kedua pipi dan keningku (lagi) dipeluklah aku, dalam peluk dan usapan tangannya dikepalaku, Papa mengatakan “Selamat ulang tahun yah sayang, semoga kamu sehat, panjang umur, sukses karier, enteng jodohnya, jadi lebih baik lagi dari tahun-tahun kemarin, semakin sholeha. Papa yakin kamu anak yang kuat, kesedihan ini nggak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah kamu lewati sebelum ini, jadilah yang kuat yang Nak, bangkit dari kesedihan memang nggak mudah, tapi bukan berarti nggak bisa. Percaya, Allah sangat mencintai kamu dengan mendatangkan ujian ini untuk kamu. Kamu nggak sendiri Nak, ada Papa, Mama dan adik disini” Doa Papa memecah air mata yang sudah tak mampu lagi ku tahan, kupeluk erat Papa sambil menangis dalam peluknya aku katakan “Makasih telah menjadi Papa terbaik untuk aku

Mama

Mama yang tidak pernah bisa menahan kesedihan pun langsung memeluk dan menciumi seluruh wajahku yang juga dipenuhi dengan air mata “Kakak, selamat ulang tahun yah Nak, biar kakak panjang umur, sehat terus, selalu bahagia, sukses kariernya. Sekarang kakak focus karier dulu ajah yah Nak, nggak usah pikirin yang macem-macem dulu, kakak masih muda, masih panjang jalannya. Mama sedih Nak, liat kakak begini, kalau kakak kuat Mama juga kuat, tapi kalau kakak kaya gini Mama sedih Nak. Kakak harus kuat, tunjukin ke orang-orang kakak baik-baik ajah. Kehilangan sesuatu yang tidak menghargai kakak itu nggak ada ruginya Nak, kebahagiaan menanti kakak didepan sana. Harusnya Kakak bersyukur, Allah dengan cepat memberi Kakak jawaban untuk setiap istikharah Kakak. Kakak cuma harus sabar, semua pasti ada hikmahnya yah Nak. Kakak masih punya Mama, Papa, Adik yang nggak akan pernah tinggalin kakak dalam kondisi apapun. Kakak fikir dengan kakak diam, mama nggak tau apa yang kakak rasakan, mama ini yang melahirkan kakak, apapun yang kakak rasakan mama pasti tau meskipun kakak menyembunyikannya. Jangan pendam sendiri masalah kakak, cerita ke Mama ke Papa supaya kakak lega yah Nak”

Tangisan pun meledak, memeluk erat tubuh wanita yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku, wanita yang perasaannya aku abaikan karena kesedihan yang ku pendam sendiri, wanita yang selalu menangis di setiap sujudnya untuk mendoakanku, wanita yang selalu ingin bertanya tentang kesedihanku namun dia takut akan melukaiku. “Mama, maafin kakak

Secerah sinar mentari saat kutatap wajah kedua orangtuaku, ada kehangatan yang kurasakan dalam hatiku. Segala doa untukku selalu dikumandangkan dalam suara lembut penuh keluh dan kesah. Kalian lah yang kucinta selama hidupku, maafkan aku bila ternyata selama ini ku salah, sungguh kusadari tak mampu kubalas semua pengorbanan kalian.

Dalam pejam mata ku meminta

Ya Allah, saat ku membuka mata akan kulihat wajah orang-orang yang paling berharga dalam hidupku, aku mohon jagalah senyum mereka disaat aku kehilangan senyumku. Dan jagalah kebahagiaan mereka saat aku kehilangan kebahagiaanku. Ya Allah, hadiahkan aku kemampuan untuk dapat mempertahankan senyum dan kebahagiaan mereka meski dalam keadaan terburukku sekalipun”

aamiin”

“Kakak minta apa sama Allah?”

Sambil kucubit pipi adikku, kujawab “Hadiah..”

Advertisements

8 thoughts on “Hadiah Ulang Tahun

  1. tanpa nama says:

    hallo..
    sy mungkin ga pintar memainkan kata2 dan menulis di blog..
    saya salut,anda begitu pandai menata kata-kata di stiap blog yg km tulis,sampe2 pembacanya serasa berada dalam cerita yg km buat dan ikut merasakan suasana saat itu.
    smoga msh ada cerita2 pendek lanjutan yg mengispiratif bagi org lain..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s